Kamis, 04 September 2014

KORBAN SISTEM PENDIDIKAN DAN SEKOLAH SALAH KURIKULUM


Sekolah-sekolah di Jepang ternyata lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mendidik etika perilaku dan budipekerti murid-murid sekolah mereka mulai pra sekolah atau TK hingga Sekolah Dasar, selama kurun waktu lebih kurang 2+6 tahun. = 8 tahun.
Hampir setiap hari anak-anak di berikan pelajaran praktek tentang "Mengelola Sampah" **bukan membuang sampah karena disana sampah itu akan selalu di daur ulang untuk bisa di manfaatkan kembali untuk masyarkat atau di jadikan bahan bakar alternatif dan sebagainya.
Di sekolah anak-anak juga dilatih untuk membersihkan kelas, membersihkan toilet sekolah, merapikan ruang kelas, menata sepatu, berkata santun, hadir tepat waktu, berlatih kejujuran dan semua budi pekerti lainnya, juga di latih dasar-dasar life skill seperti memasak, saling membantu, melayani dan tolong menolong serta ramah alam dan lingkungan seperti menjaga keseimbangan ekosistem.
Sehingga seandainya seseorang tidak mau lanjut ke perguruan tinggi karena alasan pribadi mereka, maka merekapun sudah tahu bagaimananya hidup tertib, jujur, bersih, rapih dan beretika moral yang baik dilingkungan masyarakat.
Dan ternyata hasilnya sungguh luar biasa.!
Mungkin bisa dilihat secara sederhana, misalnya saja selokan-selokan di pusat kota, seperti Tokyo hingga di pedesaan terlihat jernih, bersih terawat dan bisa di huni oleh Ikan-ikan KOI tanpa takut TERCEMARI oleh limbah rumah tangga atau pabrik, atau orang yang buang sampah sembarangan ke Got, serta tanpa TAKUT DI CURI oleh orang yang lewat atau masyarakat yang tinggal di sekitarnya. (Bebas Limbah dan Bebas Pencurian)
Bandingkan dengan selokan-selokan yang ada di Ibukota Jakarta atau mungkin juga yang ada di sebagian besar desa-desa di Indonesia.
Jika negara maju seperti Jepang saja justru sekolah-sekolahnya lebih berfokus untuk mengajarkan praktek etika prilaku moral dan budi pekerti anak sejak usia dini lalu mengapa sekolah-sekolah di Indonesia malah sibuk mewajibkan baca tulis hitung bagi siswa-siswa sekolah TK atau SDnya ?
Hingga terlihat sangat jelas bedanya, Coba deh pikirkan sekali lagi dan tanya mengapa?
Jika anda setuju silahkan sebarkan kisah ini pada sebanyak-banyaknya orang tua dan guru yang anda kenal, semoga saja bisa membawa perubahan bagi negeri kita.

Minggu, 08 Juni 2014

MENGINTIP PERBEDAAN SISTEM SEKOLAH DI JEPANG VS DI INDONESIA


Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara “open school” di sekolah tersebut. Kalau di Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar perumahan.
Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.
Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.
Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.
Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.
Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.
Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.
Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar.
Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.
Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi.

Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.
Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak.
Dengan kata lain, orang tua tidak “membongkar” apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.
Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman.
Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta dilayani.
Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya “berat” dan kerap di-“paksa” harus hafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji.
Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.

Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.
Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.
Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.
Mudah-mudahan dikeluarkannya kata “Budaya” dari Departemen “Pendidikan dan Kebudayaan” sehingga “hanya” menjadi Departemen “Pendidikan Nasional” di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan “Budaya”, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti.
Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu “penting” lainnya.
Demikian sekedar catatan saya dari menghadiri pertemuan orang tua di SD Jepang.
Salam.

Sumber: edukasi.kompasiana.com

Senin, 14 April 2014

11 hukum semesta yang terlupakan

01. The Law of Thinking
aman .. sayangnya, ini juga dipancarkan oleh sel sebagai vibrasi .. sehingga KEBIASAAN berpikir positif, akan menghasilkan prediksi positif dengan emosi yang positif, memunculkan vibrasi positif ..yang direspon oleh semesta untuk menghadirkan hal-hal yang positif pula ke dalam kehidupan .. #The.Law.of.Thinking


02. The Law of Supply
 alam semesta menyediakan bahan baku tiada batas sesuai kebutuhan .. bukan sesuai keinginan .. bahan baku, bukan bahan olahan .. sehingga diperlukan buah pikiran yang bijak untuk memanfaatkannya tanpa merusak sumbernya .. keinginan dan keserakahanlah yang memunculkan tindakan yang mengancam kerusakan sumbernya .. oleh karenanya setelah tadi aku menuliskan #The.Law.of.Thinking .. maka perlulah kita melengkapi kesadaran diri bahwa ada #The.Law.of.Supply .. kesadaran akan keberadaan alam semeesta yang kaya raya dan potensi tanpa batas yang harus dikelola dengan bijak ..karena semua ini titipan anak cucu kita 


03. The Law of Attraction
 di pasar ada penjual ada pembeli .. ada yang membutuhkan, ada yang menyediakan .. semuanya berinteraksi .. butuh ikan ya ke bagian pasar yang menjual ikan .. lucu sekali bila menunggunya di bagian pasar yang menjual kain misalnya .. ada tarik menarik di antara mereka .. ditarik .. dan menarik .. hasil karya pikiran dengan memanfaatkan sumberdaya alam tidak akan kemana-mana samapi si penjual berpikir tentang mendapatkan uang .. dan orang yang punya uang yang butuh hasil karya tersebut akan mencari si penjual .. kita mengenalnya dari buku dan film "The Secret" sebagai #The.Law.of.Attractions


04. The Law of Receiving
akan sia-sialah upaya kalau kita terlalu gengsi menerima penghargaan yang diberikan .. biarpun penghargaan itu mungkin terlalu kecil menurut ukuran kita .. keterbukaan untuk menerima inilah yang membuat aliran keberlimpahan yang sudah dihasilkan oleh ketiga hukum alam sebelumnya (#The.Law.of.Thinking .. #The.Law.of.Supply .. #The.Law.of.Attractions) tidak mewujudkan sebuah pertukaran nilai yang nyata bagi kehidupan .. bahkan ketika seseorang sudah menetapkan dalam dirinya penghargaan yang HARUS diterimanya akan sebuah kontribusinya dalam suatu saat, maka inipun akan dirasakan sebagai vibrasi bagi orang lain dalm wujud sosok yang sangat mahal dan tak tersentuh .. sehingga interaksi yang menuju pertukaran nilai yang nyatapun batal terjadi .. #The.Law.of.Receiving .. ingatlah, aliran sungai yang deras dan besar juga berasal dari aliran kecil2 sumber air dari tempat yang lebih tinggi .. hanya keselarasan dan ketekunan dalam waktulah yang menjadikannya besar .. ikhlas menerima ..


05. The Law of Increase
kricikan dadi grojokan .. demikianlah orang jawa menyebutnya .. semuanya bertumbuh seiring waktu ketika diberi perhatian (attention) .. biji kecil yang terkubur tanahpun mampu menjadi pohon raksasa yang menyeruak dan memenuhi tanah itu dengan biji2 yang dihasilkannya .. semua bertumbuh bila diberi attention .. #The.Law.of.Increase .. usaha kecilpun akan tumbuh ketika diberi perhatian dan ketekunan dalam mengupayakannya


06. The Law of Compensation
pertukaran nilai yang nyata .. kompensasi .. tidak harus datang dari sebuah kesepakatan saat itu juga .. aku suka menggunakan istilah "life is A vibration game"..karena "A"ini bukan berarti sebuah saja .. tapi sebuah permainan vibrasi yang utuh dan saling berkesinambungan sebagai suatu kesatuan .. kenapa? karena kita perlu memupuk kepercayaan dan sikap menghargai satu sama lain .. seiring dengan semakin kuatnya ikatan batin dalam kerjasama kedua belah pihaklah mulai dihadirkan kompensasi yang kadang juga jauh di luar perhitungan kita .. kompensasi dihadirkan selama ada ikatan kerjasama .. bukan cuma antar manusia .. juga dengan alam semesta .. dan DIA tentunya .. #The.Law.of.Compensation .. tak ada makan siang yang gratis, pipispun berbayar sekarang .. 



07. The Law of Non-Resistance
yang mengalir akan terus bertumbuh .. yang diam akan cenderung busuk .. yang selaras makin melaju .. yang menentang aliran alam akan menguras tenaga .. hahahaha .. ya begitulah alam semesta, air yang dibendung akan mengumpulkan tenaga yang lebih besar (The Law of Increase) .. dan siap menghancurkan apa saja yang menghalangi .. kehidupan akan jadi lebih gampang dijalani ketika kita selaras dengan alam itu sendiri ..karena kita masih hidup di alam itu .. melawannya? cari perkara saja .. #The.Law.of.Non-Resistance


08. The Law of Forgiveness
dalam setiap interaksi .. selalu ada kemungkinan pergesekan persepsi yang menimbulkan kesalahpahaman .. semua ini terjadi karena kita memang cuma mampu memahami dengan batasan pemikiran dan pengalaman hidup kita saja .. manusia dengan latar belakang, pendidikan yang lain akan menanggapinya berbeda .. belum lagi sitasi emosi kita saat itu .. semuanya jadi tidak lagi seperti yang diharapkan .. kita membalas menyakiti karena mekanisme perlindungan diri kita .. semuanya sangat natural .. dan tentunya inilah yang perlu dikendalikan selagi kita menyadarinya .. memaafkan bukan agar satu pihak merasa lebih baik atau merasa lebih benar .. tapi lebih agar semua itu cuma sesaat saja dan tak perlu dijadikan bagian penilaian dari keseluruhan tindakan .. janganlah lupa, setiap orang suci punya masa lalu (yang mungkin saja penuh dosa).. dan setiap pendosa punya masa depan ..
#The.Law.of.Forgiveness .. alam semesta selalu memaafkan ulah manusia dan tidak mendendam sampai generasi ke generasi .. buktinya juga masih ada bayi yang lahir saat ini, sebuah tanda bahwa DIA memaafkan dan masih mempercayai kemanusiaan manusia bisa menjaga keharmonisan dan kelangsungan alam semesta itu sendiri


09. The Law of Sacrifice
 bahkan untuk kentut saja, kau harus berkorban .. makan sesuatu dulu .. rela berkorban mules-mules dikit .. bahkan rela menanggung resiko dipermalukan ketika gas itu keluar .. "siapa menanam, dia akan menuai" demikian kata pepatah .. sudah jelas, bahkan manusia sendiri saja dilahirkan dari sebuah investasi .. sebuah pengorbanan dari orang tuanya yang tak pernah lagi diperhitungkan, malah sering dipersalahkan ..sebuah produk yang diluncurkan ke pasaran saja harus mengorbankan biaya promosi .. harus mengorbankan beberpa produk agar dikenal dan mulai disukai pembeli .. bahkan tidak ajrang pemilik usahanya harus mengorbankan sebagian keuntungannya untuk kelangsungan produknya itu sendiri .. pengorbanan perlu untuk sesuatu yang lebih baik #The.Law.of.Sacrifice 


10. The Law of Obedience
semua perlu waktu .. semua perlu ketekunan .. kesungguhan melakukan hal-hal kecillah yang akan membuat orang menjadi besar .. aku menyebutnya sebagai flowing state .. sebuah keadaan di mana rasa ogah melakukan dan bosan melakukan bisa dianulir/diatasi dengan baik .. alam sudah meberikan contoh banyak sekali .. seekor lebah yang mengumpulkan madu yang akhirnya dirampok manusia .. bunga kecil yang mekar setelah bertahun-tahun sang biji tekun bertumbuh menjadi tanaman .. bahkan ada istilah menarik dalam bahasa Arab .. "Man Jadda Wa Jada” = Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka pasti akan berhasil .. #The.Law.of.Obedience


11. The Law of Success
19 jam yang lalu aku menuliskan "tirulah alam, alam selalu sukses mencapai apa yang dirancangNYA.. tidak pernah gagal sekalipun" .. 1 jam kemudian aku menerima kado "11 hukum semesta yang terlupakan" dari seorang sahabat .. dan kejutannya bagiku adalah hukum ke 11 adalah #The.Law.of.Success .. yang tidak lain adalah apa yang kutulis sejam sebelumnya .. 

#The.Law.of.Success .. selalu ada keberhasilan di semesta, karena yang kausebut kegagalan hanyalah bagian dari investasi dalam mencapai keberhasilan-keberhasilannya .. alam dengan baik mencontohkannya ..batang buah naga merahpun harus mengalami patah ketika hujan dan angin keras melanda di awal musim hujan .. hanya dari batang yang patah itulah akan muncul kuncup2 bunga .. yang sebagian akan rontok dan menjadi pupuk kalau tanamannya belum siap berbuah .. dan sebagian lagi akan mekar semalam dan terus layu agar terjadi persilangan yang nantinya memunculkan buah yang berlimpah .. bahkan tak jarang bakal buahnyapun rontok ketika hendak membesar, agar buah yang rontok ini bisa menjadi pupuk dan memberi kesempatan buah yang layak menjadi semakin besar dan memberi manfaat bagi kehidupan .. #The.Law.of.Success

Biarkan Saya Simpan Impian Saya


Anda Bisa Simpan Nilai “F” dan Biarkan Saya Simpan Impian Saya

(Disadur dari kisah nyata ‘Monty Roberts – The Man who Listen to Horses’)
Ketika Monty Roberts masih duduk di bangku SMA, salah seorang gurunya memberi PR untuk membuat sebuah esai tentang impiannya setelah lulus dari sekolahnya kelak. Ia kemudian menulis sebuah esai bahwa ia ingin mengembangkan sebuah ranch lengkapdengan seluruh fasilitas yang diperlukan untuk membesarkan dan melatih kuda pacu. Gurunya langsung memberinya nilai F, karena impian Monty Roberts dinilai tidak masuk akal oleh gurunya. Sang Guru kemudian memanggil Monty Roberts dan memintanya untuk menulis ulang esainya dengan impian yang jauh lebih realistis mengingat Monty Roberts berasal dari keluarga yang miskin.
Monty Roberts pulang ke rumah dan berbicara dengan ayahnya. Sang Ayah kemudian berkata kepada Monty Roberts, “Nak, impianmu adalah hal yang terpenting dalam hidupmu. Karena itu aku tidak akan memengaruhimu, dan aku percaya engkau bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk hidupmu.”
Keesokan harinya, Monty menghadap gurunya, dan menyodorkan kembali esai yang mendapat nilai F tanpavdia ubah sama sekali sembari berkata, “Bapak, silakan Bapak simpan nilai F ini, dan biarkan saya tetap menyimpan impian saya.”
Kini Monty Roberts memiliki sebuah ranch besar di Solvang California, dan dikenal sebagai pusat pengembangan kuda pacu paling sukses di Amerika. Dia juga dikenal sebagai “The Man who Listen to Horses.”
Kertas esai dengan nilai F tersebut masih dia simpan, dan dibingkai di atas perapiannya.
Semua kisah sukses selalu dimulai dari sebuah impian. Bantu putera-pueri kita untuk berani bermimpi besar, yakin pada impiannya, merasa diri layak dan berharga untuk bisa berhasil mencapai semua impian mereka seperti Monty Roberts.

Minggu, 30 Maret 2014

Pelajaran Penting yang Didapat Anak dari Bermain



Salah satu hal yang paling susah dilakukan para orangtua adalah memisahkan anak dari mainan dan juga mengurangi waktu bermainnya. Semua ini dilakukan karena aktivitas ini dianggap buang-buang waktu dan tak bermanfaat oleh orangtua.
Ironisnya, kegiatan bermain kini semakin kehilangan pamor, dianggap ketinggalan jaman dan tidak berguna. Penelitian yang dikemukakan oleh Golinkoff, Hirsh-Pasek, Singer, pada tahun 2006 menunjukkan waktu bermain anak-anak kini sudah semakin berkurang. Di tahun 1981, waktu bermain anak-anak berkurang 40 persen. Dan di tahun 1997, waktu bermain anak-anak berkurang lagi menjadi 25 persen.
"Kalau dihitung-hitung, kegiatan belajar anak-anak SD sekarang ini bisa berlangsung lebih dari delapan jam sehari. Selama sekian jam lamanya mereka terkungkung di dalam ruang kelas, istirahat di sekolah hanya 2 kali 15 menit per hari. Seusai sekolah, mereka harus mengikuti les tambahan pelajaran, atau les lainnya yang kadang bukan menjadi minat mereka. Jadi, tidak heran kalau anak-anak ini stres, jenuh belajar, dan tidak bersemangat belajar, dan prestasi akademis melorot," kata Mayke S Tedjasaputra, Play Therapist.
Setiap orang, termasuk Anda dan anak-anak pasti punya batas kemampuan untuk bisa belajar dan bekerja. Anda saja bisa bosan dan capek kalau terus-terusan bekerja. Suatu saat Anda juga pasti ingin bersantai dari rutinitas, apalagi anak-anak yang dunianya penuh dengan mainan? Agar hidup lebih bahagia dan sehat, semua orang membutuhkan keseimbangan hidup, antara kegiatan belajar dan rekreasi (bermain).
Itu saja manfaat bermain? Jangan dulu beranggapan kalau bermain cuma sekadar bagian dari proses refresing saja. Lewat bermain, anak-anak juga bisa mendapat banyak "pelajaran" yang bermanfaat untuk kehidupan mereka nantinya. Bermain menimbulkan rasa senang dan menjadi sarana anak-anak untuk mengembangkan diri secara optimal.
1. Aspek fisik-motorik
Lewat bermain, energi anak akan lebih tersalurkan, dan pertumbuhan otot tubuh, tulang, gerakan motorik kasar dan motorik halus dapat berkembang lebih baik.

2. Aspek emosional
Bermain mereka dapat menyalurkan emosi yang terpendam, meluapkan rasa tertekan atau rasa senang yang mereka rasakan. Lewat bermain, anak akan belajar cara mengatur dirinya untuk tidak memaksakan kehendaknya, beradaptasi, menjalankan kesepakatan bersama temannya, sportif, jujur, dan tidak mudah menyerah ketika mengalami kesulitan.

3. Aspek kognitif 
Dalam permainan, anak secara tak langsung akan dituntut untuk berpikir menentukan strategi yang jitu agar bisa memenangkan permainan, fokus pada apa yang dilakukan, mencari solusi ketika ada masalah yang muncul, mengorganisir teman-teman agar tercipta team-work yang solid, menghubungkan pengalaman masa lalu dengan tindakannya di masa sekarang.

4.Bahasa
Bermain ternyata juga berfungsi untuk menambah perbendaharaan kosa kata anak. Saat bermain pun, anak-anak dapat saling berbagi pengetahuan yang mereka miliki. Dengan kata lain, bermain memiliki manfaat jangka panjang bagi anak, yaitu mengasah executive function.

Jadi, jangan larang anak bermain. Sebagai orangtua sebaiknya, Anda harus mengajarkan mereka bagaimana cara membagi waktu yang tepat antara bermain dengan belajar. 

Jumat, 21 Maret 2014

Apa Efeknya jika Orangtua Jarang Berkomunikasi dengan Anak?


KOMPAS.com — Permasalahan komunikasi ternyata tidak hanya dialami oleh anak-anak yang terpisah jarak dengan orangtuanya, tetapi juga orangtua dan anak yang tinggal serumah. Padahal, minimnya komunikasi membuat hubungan orangtua dan anak kurang dekat secara psikologis.
Jika pada keluarga yang tinggal terpisah memiliki hambatan komunikasi karena tidak dekat secara fisik, maka pada keluarga modern, kehadiran gadget-gadget canggih tanpa disadari menyebabkan hilangnya komunikasi dan kehangatan keluarga.
Ketergantungan pada gadget membuat masing-masing anggota keluarga menjalani kesibukannya. Bahkan meski berada dalam satu ruangan yang sama, mereka tidak saling berkomunikasi secara mendalam.
"Banyak orang masih mengira kedekatan fisik saja sudah cukup, padahal perlu juga diciptakan komunikasi mendalam dengan pasangan dan juga anak-anak," kata psikolog Anna Surti Ariani, MSi, yang akrab disapa Nina, dalam acara yang digelar oleh Sariwangi, di Jakarta Rabu (19/3/2014).
Untuk anak berusia kurang dari 7 tahun, kedekatan fisik adalah sesuatu yang memang diperlukan. Mereka belum bisa membayangkan sosok orangtua yang tidak ada di dekatnya.
"Tapi orangtua juga perlu ngobrol dengan anak, mendengarkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan anak dengan penuh perhatian. Ini yang disebut dengan komunikasi berkualitas," kata Nina.
Kurangnya komunikasi juga pernah dialami penyanyi Widi Mulia. "Saya pernah dilapori oleh guru anak sulung saya, Dru, karena ia jadi lebih pendiam di sekolah. Ternyata setelah saya ngomong dari hati ke hati dengan Dru, ia merasa kurang diperhatikan karena saya lebih fokus pada adiknya," ujarnya.
Setelah itu, Widi mengaku selalu menyempatkan diri untuk memperdalam komunikasi dengan kedua buah hatinya. "Terkadang kita sebagai orangtua tanpa sadar terlalu over estimate anak, padahal sebenarnya mereka juga masih butuh dimanja-manja dan didengarkan," katanya.
Kurangnya komunikasi mendalam antara anak dan orangtua, menurut Nina, berdampak negatif pada perkembangan emosi anak.
"Keterampilan komunikasi anak menjadi kurang diasah sehingga anak lebih individualis. Mereka juga rentan jadi pemberontak, terutama pada anak yang bawaannya memang keras," paparnya.
Selain itu, anak yang tidak terampil berkomunikasi juga cenderung menghadapi banyak masalah saat ia dewasa. "Rumah tangga mereka rentan perceraian karena tidak biasa berkomunikasi dalam sebuah hubungan," katanya.
Obrolan mendalam antara orangtua dan anak juga bisa membantu anak mengatur emosinya. Anak yang jarang diajak ngobrol dengan orangtuanya cenderung merasa "kosong" dalam jiwanya sehingga mereka akan mencari orang lain untuk mengisi kekosongan tersebut.
"Itu sebabnya banyak fenomena anak-anak remaja yang mudah percaya pada orang asing di media sosial. Mereka sebenarnya butuh teman, butuh didengarkan. Kebutuhan itu tidak didapatkan dari orangtuanya," kata Nina.
Kedekatan secara fisik dengan anak seharusnya menjadi keistimewaan yang patut disyukuri karena orangtua bisa melihat secara langsung perkembangan anak. Dengan menerapkan komunikasi yang efektif, baik keluarga yang terpisah jarak maupun keluarga yang satu atap, bisa mencegah pengaruh negatif terhadap perkembangan anak

Rabu, 19 Maret 2014

Dalam Cengkeraman Ilmu Dasar


SETIAP bangsa punya pilihan: melahirkan atlet bermedali emas atau perenang yang tak pernah menyentuh air; melahirkan sarjana yang tahu ke mana langkah dibawa atau sekadar membawa ijazah.
Tak termungkiri, negeri ini bu- tuh lebih banyak orang yang bisa membuat ketimbang pandai berdebat, bertindak dalam karya ketimbang hanya protes. Tak banyak yang menyadari universitas hebat bukan hanya diukur dari jumlah publikasinya, melainkan juga dari jumlah paten dan impak pada komunitasnya.
Pendidikan kita masih berkutat di seputar kertas. Kita baru mahir memindahkan pengetahuan dari buku teks ke lembar demi lembar kertas: makalah, karya ilmiah, skripsi, atau tesis. Kita belum menanamnya dalam tindakan pada memori otot, myelin.
Seorang mahasiswa dapat nilai A dalam kelas pemasaran bukan karena dia bisa menerapkan ilmu itu ke dalam hidupnya, minimal memasarkan dirinya, atau memasarkan produk orang lain, melainkan karena ia sudah bisa menulis ulang isi buku ke lembar-lembar kertas ujian.
Pendidikan tinggi sebenarnya bisa dibagi dalam dua kelompok besar: dasar dan terapan. Pendi- dikan dasar itulah yang kita kenal sejak di SD: matematika, kimia, biologi, fisika, ekonomi, sosiologi, dan psikologi. Terapannya bisa berkembang menjadi ilmu kedokteran, teknik sipil, ilmu komputer, manajemen, desain, perhotelan, dan seterusnya.
Kedua ilmu itu sangat dibutuhkan bangsa memajukan pera- daban. Namun, investasi untuk membangun ilmu dasar amat besar, membutuhkan tradisi riset dan sumber daya manusia bermutu tinggi. Siapa menguasai ilmu dasar ibaratnya mampu menguasai dunia dengan universitas yang menarik ilmuwan terbaik lintas bangsa. Negara-negara yang berambisi menguasainya punya kebijakan imigrasi yang khas dan didukung pusat keuangan dan inovasi progresif.
Dengan bekal ilmu dasar yang kuat, bangsa besar membentuk ilmu terapan. Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris adalah negara yang dibangun dengan keduanya. Namun, sebagian negara di Eropa dan Asia memilih jalan le- bih realistis: fokus pada studi il- mu terapan. Swiss fokus dengan ilmu terapan dalam bidang manajemen perhotelan, kuliner, dan arloji. Thailand dengan ilmu terapan pariwisata dan pertanian. Jepang dengan elektronika. Singapura dalam industri jasa keuangannya.
Tentu terjadi pergulatan besar agar ilmu terapan dapat benar- benar diterapkan. Pada mulanya ilmu terapan dikembangkan di perguruan tinggi untuk mendapat dana riset dan menjembatani teori dengan praktik. Akan tetapi, mindset para ilmuwan tetaplah ilmu dasar yang penekanannya ada pada metodologi dan statistik untuk mencari kebenaran ilmiah yang buntutnya ialah publikasi ilmiah.
Melalui pergulatan besar, pro- gram studi terapan berhasil keluar dari perangkap ilmu dasar. Ilmu Komputer keluar dari Fakultas Matematika dan Manajemen menjadi Sekolah Bisnis. Dari lulusan dengan ”keterampilan kertas”, mereka masuk pada karya akhir berupa aplikasi, portofolio, mock up, desain, dan laporan pemecahan masalah.
Metodologi dipakai, tetapi validitas eksternal (impak dan aplikasi) diutamakan. Hanya pada program doktoral metodologi riset yang kuat diterapkan. Itu pun banyak ilmuwan terapan yang meminjam ilmu dasar atau ilmu terapan lain sehingga terbentuk program multidisiplin seperti arsitektur yang dijodohkan dengan antropologi atau arkeologi, akuntansi dengan ilmu keuangan.
Anak-anak Kita
Kemerdekaan yang diraih pro- gram studi ilmu terapan di pergu- ruan tinggi melahirkan revolusi pada tingkat pendidikan dasar. Bila mengunjungi pendidikan anak-anak usia dini, TK dan SD di mancanegara, Anda akan melihat kontras dengan di sini. Alih-alih baca-tulis-hitung dan menghafal, mereka mengajarkan executive functioning, yang melatih anak-anak mengelola proses kognisi (memori kerja, reasoning, kreativitas-adaptasi, pengambilan keputusan, dan perencanaan-eksekusi).
Sekarang jelas mengapa kita mengeluh sarjana tak siap pakai: pendidikan didominasi kultur ilmu dasar yang serba kertas dan mengabaikan aplikasi. Perhatikan, Indonesia masih menjadi negara yang mewajibkan lulusan sekolah bisnis (MM) menulis tesis yang pengujinya getol memeriksa validitas internal dan metodologi yang sempit. Kegetolan ini juga terjadi pada banyak penguji program studi perhotelan atau terapan lain yang merasa kurang ilmiah kalau tidak ada pengolahan data secara saintifik.
Saya ingin menegaskan: hal itu hanya terjadi pada negara yang ilmu terapannya masih terbelenggu mindset ilmu dasar. Keluhan- nya sama: tak siap pakai, kalah dalam persaingan global.
Pertanyaannya hanya satu, kita biarkan terus seperti ini atau dengan legawa kita mulai pembaruan agar para sarjana ilmu terapan mampu menerapkan ilmunya? Itu terpulang pada kesadaran kita, bukan kesombongan atau ego ilmiah.
(RHENALD KASALI, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia)
Sumber: Harian Kompas edisi Selasa, 18 Maret 2014.

Jumat, 28 Februari 2014

Mental block




Apa sih mental block itu? Mental block adalah kepercayaan yang bersifat menghambat kita dalam menggunakan potensi diri secara optimal. Untuk mudahnya begini. Pernahkah anda mendengar anak berkata ”Belajar itu sulit dan membosankan”, ”Saya nggak bisa bahasa Inggris”, ”Saya bodoh matematika”, ”Matematika hanya untuk anak yang otaknya encer”, ”Nilai IPS saya selalu jelek”, dan masih banyak ungkapan negatif lainnya? 

Setiap pernyataan di atas mencerminkan kepercayaan (belief) anak terhadap dirinya sendiri dan kemampuannya di bidang tertentu. Pada saat anak menerima hal ini sebagai suatu kebenaran maka pada saat itu pula telah tercipta mental block dalam diri anak. 

Lalu, apa pengaruh mental block terhadap prestasi anak? Sungguh dahsyat pengaruhnya. Anak dengan mental block seperti ini digaransi akan mengalami kesulitan belajar. 

Dari pengalaman saya membantu dan menangani anak ”bermasalah” saya sampai pada satu simpulan penting. Tidak ada seorangpun yang bodoh. Yang ada adalah anak yang ”diprogram” menjadi anak yang bodoh. Kalau saya boleh lebih keras berbicara tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah anak yang ”dipaksa” menjadi bodoh. 

Anda mungkin bingung dan bertanya, ”Apa maksudnya anak ”diprogram” atau ”dipaksa” menjadi bodoh?”. 

Penjelasan singkatnya seperti ini. Misalnya, anak diajar matematika dan anak tidak mengerti. Ada banyak faktor yang membuat anak tidak mengerti. Misalnya karena gaya mengajar guru tidak sama dengan gaya belajar anak. Sebab lain, karena proses belajar dasar-dasar matematika yang salah. Anak tidak diajar secara konkrit, tapi langsung dihajar (bukan diajar, lho) dengan pendekatan yang bersifat abstrak. 

Penjelasan lebih detil sebagai berikut. Jean Piaget, filsuf dan psikolog perkembangan dari Swiss, membagi perkembangan kognisi menjadi beberapa tahap berdasarkan usia:

0 – 2 thn tahap Sesori Motor
2 – 7 thn tahap Pra Operasi
7 – 12 thn tahap Operasi Konkrit
12 – 15 thn tahap Operasi Formal

Apa jadinya bila materi pelajaran diberikan kepada anak kita ternyata tidak sesuai dengan usia dan perkembangan kognisinya? Ya sudah tentu akan berakibat negatif. 

Saat anak masih di sekolah dasar, usia 7 – 12 tahun, materi pelajaran seharusnya lebih bersifat konkrit, bukan abstrak. Nah, khusus di bidang matematika, anak biasanya mengalami kesulitan karena materi pelajaran diajarkan tanpa mengindahkan kebutuhan anak belajar secara konkrit. 

Apa maksudnya? Coba kita lihat bagaimana anak kita belajar konsep angka dan jumlah. Cara yang benar adalah anak dikenalkan dengan benda konkrit yang ia kenal. Misalnya kelereng, sendok, bola, permen, sedotan minuman, pensil, atau kerikil. Nah, saat mengajar angka 1, 2, 3, dan seterusnya, harusnya ada benda yang bisa anak pegang dan manipulasi. Dengan demikian proses belajarnya benar yaitu konkrit. Angka, yang abstrak, masuk ke pikiran anak melalui benda konkrit. 

Bila menggunakan benda konkrit maka anak bisa belajar menggunakan tiga gaya belajar sekaligus, visual, ia melihat bendanya, auditori, ia mendapat penjelasan dari gurunya, dan kinestetik, ia bisa memegang bendanya. Bila ini yang terjadi dijamin anak pasti fokus belajarnya.

Dari konkrit, setelah konsepnya dimengerti, barulah kita bergeser ke semi abstrak. Yang dimaksud dengan semi abkstrak adalah kita mengajar anak dengan menggunakan gambar, misalnya dengan kartu. Di kartu, selain ada angka juga ada gambar. 

Setelah itu barulah kita bergeser ke abstrak yaitu hanya menggunakan angka saja. Jadi proses belajar yang benar adalah dari konkrit, semi abstrak, ke abstrak. 

Salah satu kesulitan terbesar anak dalam belajar matematika adalah saat mereka harus mengerjakan soal cerita. Wah... ini sungguh menjadi momok bagi anak. 

Sebagai sesama orangtua dan pendidik saya bisa memahami kesulitan anak. Mengapa anak mengalami kesulitan? Lha, bagaimana bisa mengerjakan soal cerita kalau dasar matematikanya saja belum kuat dan kemampuan linguistik anak masih kurang. Celakanya lagi banyak guru, yang karena hanya mengikuti buku paket, memberikan soal cerita pada anak SD kelas 2. Anak kita tidak bisa mengerjakan soal bukan karena bodoh namun secara perkembangan kognisi, kemampuan logika berpikir, dan kemampuan bahasa memang belum bisa. Biar dipaksa dengan memberikan les atau pelajaran tambahan anak tetap akan mengalami kesulitan. 

Apa akibatnya bila anak langsung belajar dengan pendekatan abstrak? Anak pasti bingung dan tidak mengerti. 

Selanjutnya anak yang tidak mengerti, tidak menguasai dasar matematika, tidak menguasai konsep dengan benar, diberi ujian. Hasilnya? Ya sudah tentu nilainya jelek. Nilai yang jelek ini kalau terjadi berkali-kali, ditambah lagi dengan ”pujian” yang didapat anak dari guru dan orangtua yang hanya mementingkan nilai tapi tidak mementingkan proses, akhirnya mengkristal menjadi kepercayaan yang menyatakan ”Saya tidak bisa matematika. Saya memang bodoh matematika”. 

Begitu kepercayaan ini terbentuk dan diterima pikiran bawah sadar anak maka ia akan mengarahkan anak untuk mewujudkanya menjadi suatu realita. Hasilnya? Anak benar-benar menjadi bodoh matematika. Nah inilah yang dinamakan mental block.

Ini contoh matematika. Bagaimana dengan pelajaran lain? Sama saja. Ada anak yang trauma dengan pelajaran yang mengutamakan hapalan. Anak tidak bisa menghapal karena tidak diajarkan strategi menghapal yang benar. 

Dan yang lebih menyedihkan lagi, seringkali guru meminta jawaban yang persis sama dengan catatan atau yang ada di buku. Saya beberapa kali menangani anak yang frustrasi karena tidak bisa menjawab persis seperti yang diminta gurunya. Anak ini sampai remedi 5X tetap tidak bisa. 

Adalah lebih penting untuk mengajar anak mengerti daripada sekedar tahu dengan cara menghapal. Saat ini hanya dengan melakukan Googling anak bisa dapat informasi sangat banyak. Yang penting anak merasa senang belajar. Bila ia merasa senang maka dorongan untuk mengulangi pengalaman menyenangkan, ini yang disebut motivasi, akan membuat anak menguasai materi dengan bbaik

Anak adalah ANUGERAH dari Tuhan yang dipercayakan kepada kita, orangtua dan pendidik. Dan tugas utama kita, selaku orangtua dan pendidik, adalah memberikan kasih sayang, pendidikan, dukungan, bimbingan, rasa aman, sehingga anak tumbuh dengan budi PEKERTI yang baik dan benar sebagai bekal kehidupannya kelak, sehingga mampu menjalani hidup penuh makna dan bermanfaat bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, dan bagi masyarakat. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bertaqwa dan bermanfaat bagi orang lain. 

Membaca penjelasan saya sejauh ini, apa simpulan Anda? Anak kita memang bodoh ataukah mereka dipaksa atau dibuat bodoh? 




AdiWG

Kamis, 27 Februari 2014

Mengapa Anak Sulit Belajar




SISTEM DIRI (Self System)

Semua proses belajar dimulai di Sistem Diri. Sistem ini meliputi tiga aspek yaitu relevansi, kemampuan, dan emosi. Apa hubungannya dengan proses belajar? Oh, sangat erat. 

Mari kita lihat relevansi. Mengapa anak sulit belajar? Karena anak merasa bahwa apa yang ia pelajari tidak ada gunanya bagi hidupnya. Dengan kata lain anak tidak melihat relevansi bahan ajar dengan hidupnya. Contohnya? Misalnya anak diminta menghafal nama menteri kabinet. Otak anak akan sangat sulit menyerap informasi ini karena anak berpikir, ”Untuk apa sih saya harus menghafal nama-nama orang yang saya nggak kenal. Trus... kalau sudah bisa dihafal apa gunanya untuk saya?”

Kasusnya akan berbeda bila ia menghafal nama pemain sepak bola atau nama bintang sinetron. Mengapa bisa berbeda? Karena teman-temannya juga punya hobi sama. Nonton sepak bola atau sinetron. Jadi, kalau pas diskusi mengenai ”pelajaran” sepak bola atau ”pelajaran” sinetron si anak bisa terlibat aktif dan memiliki pengetahuan di ”pelajaran” ini. Menghafal nama pemain sepak bola atau artis sinetron sangat relevan bagi hidupnya. Anda jelas sekarang?

Aspek kedua adalah kemampuan. Saat anak merasa tugas yang diberikan terlalu berat, atau anak merasa tidak mampu karena tidak tahu caranya, atau anak merasa waktu yang tersedia untuk mengerjakan tugas itu tidak cukup, atau apapun alasannya sehingga membuat anak merasa tidak mampu atau tidak berdaya, akan mengakibatkan turunnya motivasi dan anak tidak akan mau belajar. Lha, buat apa belajar kalau materinya ”sulit” untuk dikuasai atau dikerjakan? Saya menulis kata sulit dalam tanda kutip karena bisa jadi memang materi pelajarannya benar-benar sulit atau sulit itu hanya dalam persepsi si anak saja. Kalau perasaan tidak mampu ini terus dialami anak maka akan terjadi yang disebut dengan ”learned helplessness” atau ”ketidakberdayaan yang dipelajari”.

Aspek ketiga yaitu emosi. Proses belajar haruslah menjadi perjalanan yang menyenangkan bagi anak. Namun yang terjadi saat ini adalah lebih banyak anak yang stress, merasa takut, atau mengalami trauma akibat proses belajar yang tidak berpihak pada anak. Anak sering mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan. Anak sering mengalami emosi negatif. Akibatnya, belajar menjadi kegiatan yang dihindari, kalau tidak boleh dikatakan dibenci, oleh anak. 

Apabila anak mengalami pengalaman menyenangkan, mengalami kegembiraan, tantangan positif, mendapat pujian, dan rasa ingin tahu yang tinggi saat belajar maka secara otomatis anak ingin mengulangi lagi pengalaman positif ini. Inilah sumber motivasi belajar intrinsik. Kepuasan belajar, perasaan diri mampu, bisa, puas karena dapat menguasai bahan ajar adalah reward paling berharga untuk hasil kerja keras anak. Dengan demikian anak tidak perlu dimotivasi dengan sogokan atau reward yang tidak perlu. 

Hal yang sama berlaku untuk kita, orang dewasa. Tidak ada satupun orang yang ingin mengalami kembali kejadian atau pengalaman yang menyakitkan. Kita semua selalu ingin merasa senang dan bahagia. Ini adalah motivasi hidup yang paling mendasar.

Intinya, bila anak merasa materi yang akan dipelajari tidak relevan atau berguna untuk hidupnya, anak merasa sulit atau tidak mampu, dan ada muatan emosi negatif pada pengalaman belajar, maka pikiran anak, lebih tepatnya pintu gerbang pikiran bawah sadar, akan langsung menutup. Akibatnya, belajar bisa dilakukan namun informasi tidak bisa masuk ke memori dan tidak terjadi internalisasi. 

SISTEM METAKOGNISI (Metacognitive System)

Setelah Sistem Diri berjalan dengan baik maka secara otomatis Sistem Metakognisi juga akan baik. Sistem Metakognisi meliputi aspek penetapan goal pribadi, keputusan untuk terus maju, dan bekerja dengan penuh semangat. 

Anak yang telah timbul semangat belajarnya karena merasa materi yang dipelajari relavan, ia merasa mampu, dan menyukai bahan ajar dengan sendirinya akan belajar dengan semangat yang tinggi. 

Dengan bekal semangat yang tinggi anak akan bekerja keras, dengan hati riang gembira, dan belajar untuk mencapai target pembelajaran yang telah ditetapkan. Walaupun mengalami hambatan si anak akan maju terus. 

SISTEM KOGNISI (Cognitive System)

Sistem Kognisi, yang meliputi aspek memroses informasi untuk menyelesaikan tugas, adalah hal yang dilakukan anak saat belajar. Aktifitas ini yang selama ini dikenal dengan ”belajar”. 

Inilah sistem yang terlihat dari luar. Anak duduk belajar atau membaca materi pelajaran. Namun, dari penjelasan sebelumnya, sistem ini hanyalah lanjutan dari dan dipengaruhi oleh dua sistem sebelumnya yaitu Sistem Diri dan Sistem Metakognisi. 

Dari penjelasan di atas tampak bahwa apabila kedua sistem terdahulu, Sistem Diri dan Sistem Metakognisi, tidak berjalan dengan baik maka secara otomatis Sistem Kognisi akan terpengaruh. Dengan kata lain akan mengalami kesulitan belajar. 

Contoh kesulitan belajar yang umumnya dialami anak adalah rasa bosan, stress, mengantuk, tidak fokus, sulit konsentrasi, sulit menyerap informasi, mudah lupa, dan masih banyak keluhan lain.

Pada tahap inilah, saat anak belajar, barulah kita bisa mengajarkan teknik-teknik belajar seperti teknik menghitung cepat, teknik mencatat dengan mind mapping, teknik menghapal (dengan segala variannya), teknik membaca cepat, atau teknik-teknik lainnya. Semua teknik ini tidak akan bisa memberikan hasil maksimal bila kedua sistem yang mendasari kerja sistem kognisi tidak berjalan baik. 

Ini juga menjawab pertanyaan dan kebingungan banyak orangtua mengapa anaknya sudah dileskan di berbagai kursus atau bahkan dileskan pada guru sekolahnya sendiri tapi prestasi akademiknya tetap tidak bisa meningkat signifikan. 

Bahkan pernah ada satu kasus di mana anak mendapat bocoran soal, soal ujiannya persis sama dengan soal bocoran ini, tapi hasil ujian anak tidak bisa lebih dari 70. Lho, kok bisa begini? Ini karena adanya mental block besar dalam diri anak.




Adi WG

Rabu, 26 Februari 2014

MENGAPA ANAK SULIT BELAJAR


Ada satu asumsi yang salah mengenai proses belajar. Pada umumnya kita berasumsi bahwa bila guru mengajar maka murid pasti belajar. Benarkah demikian? Tentu saja tidak. Mengajar merupakan satu proses. Belajar juga satu proses tersendiri. Di antara mengajar dan belajar terdapat jurang pemisah yang cukup lebar. Tugas kita sebagai orangtua dan pendidik adalah menyediakan jembatan penghubung sehingga terjadi koneksi antara mengajar dan belajar.

Asumsi adalah menerima sesuatu sebagai hal benar tanpa memeriksa atau memastikan kebenarannya. Jadi, kalau kita berpikir dan bertindak hanya berdasar asumsi maka jadinya ya seperti sekarang ini. Guru dan orangtua frustrasi karena telah mengajar dengan sungguh-sungguh sedangkan murid atau anak tidak mengerti dan belum bisa menyerap apa yang diajarkan. Guru dan orangtua frustrasi, murid atau anak depresi.

Jurang pemisah ini terutama karena guru/orangtua tidak mengerti gaya belajar. Gaya belajar adalah cara yang dirasa paling menyenangkan dan mudah dalam menyerap suatu informasi. Sebenarnya ada lima cara untuk belajar yaitu belajar berdasar indera penglihatan (visual), indera pendengaran (auditori), gerakan/perabaan (kinetetik), indera penciuman (olfaktori), dan indera rasa (gustatori). Lima jalur masuk informasi ini adalah kelima indera kita. Sebenarnya ada satu lagi yaitu melalui pikiran kita.

Setiap jalur punya karakteristik sendiri. Pada umumnya yang paling sering digunakan hanya tiga jalur yaitu visual, auditori, dan kinestetik.

Anak yang visual belajar melalui penglihatan. Anak yang auditori senang belajar dengan membaca sambil mengeluarkan suara atau malah tidak boleh ada suara sama sekali. Sedangkan anak kinestetik senang belajar sambil bergerak. Kombinasi yang umum terjadi adalah visual-auditori, visual-kinestetik, dan auditori-kinestetik.

Anda pasti pernah menemukan anak yang tidak bisa duduk diam saat belajar. Tipe ini adalah tipe kinestetik. Atau mungkin anak anda suka sekali belajar bila anda membacakan materinya. Tipe ini adalah tipe auditori. Dan ada juga yang bisa duduk dan belajar dengan tenang. Yang ini tipe visual.

Untuk lebih jelas mengenai gaya belajar dan aplikasinya dalam proses pembelajaran saya menyarankan anda membaca buku saya Born to be a Genius dan Genius Learning Strategy.

Singkat kata belajar menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dan merupakan proses yang cukup menyakitkan bagi kebanyakan anak karena tiga hal berikut:
1. Karena kita tidak tahu proses belajar yang benar
2. Karena kita tidak pernah belajar, diajar, atau mengajarkan cara belajar yang benar
3. Karena gaya mengajar tidak sejalan dengan gaya belajar

TIGA LEVEL SISTEM BELAJAR

Proses belajar yang kita lakukan sebenarnya terdiri dari tiga level:

1. Sistem Diri (Self System), meliputi aspek relevansi, kemampuan, dan emosi.
2. Sistem Metakognisi (Metacognitive System), meliputi aspek penetapan goal pribadi, keputusan untuk terus maju, dan bekerja dengan penuh semangat.
3. Sistem Kognisi (Cognitive System), meliputi aspek memproses informasi untuk menyelesaikan tugas.

Setiap proses belajar selalu terjadi dengan urutan seperti di atas, dimulai dengan Sistem Diri, kemudian ke Sistem Metakognisi, dan baru akhirnya ke Sistem Kognisi.

Sebelum saya teruskan saya ingin mengajukan satu pertanyaan untuk anda, ”Pernahkah anda bertemu dengan anak, atau mungkin anak anda sendiri, yang sulit menghafal suatu materi pelajaran, misalnya IPS atau kosakata bahasa Inggris, namun anak yang sama mampu menghafal nama semua pemain sepak bola, plus nomor punggung, dari tim sepak bola kesayangannya?”

Atau anda mungkin pernah bertemu dengan anak yang mengalami kesulitan menghafal materi pelajaran tertentu namun ia mampu menghafal materi pelajaran lain dengan mudah dan cepat?

Mengapa hal ini bisa terjadi? Padahal otak yang digunakan, untuk menghafal materi pelajaran dan nama pemain sepak bola, adalah sama. Logikanya, kalau otaknya sama maka seharusnya anak bisa menghafal semua materi pelajaran, kan?

Masalah muncul karena dalam proses belajar aspek paling penting yaitu Sistem Diri (Self System) seringkali terabaikan. Mungkin anda, guru atau orangtua, justru baru tahu mengenai hal ini sekarang. 




Adi W G