Rabu, 19 Juni 2013

ANSA Bantu Sektor Pertanian Masyarakat

image
TUNJUKKAN TEMUAN: Dr Nugroho Widiasmadi (nomor dua dari kanan), saat di sela-sela workshop menujukkan temuannya yaitu Biofertilizer Microbakter Alfaafa MA-11, Semarang, Sabtu (1/6). (suaramerdeka.com / Eko Wahyu Budiyanto)
SEMARANG, suaramerdeka.com - Anugrah Nusa Bangsa (ANSA)School merupakan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) ProgramHomeschooling di bawah Yayasan Anugrah Nusa Bangsa Indonesia mengadakan kegiatan tahunan bertajuk 'ANSA Peduli', Sabtu (1/6).
Salah satu dari kegiatan ANSA Peduli tersebut adalah 'Workshop Integrated Ecofarming BerbasisAlfaafa'. Kegiatan yang didukung oleh Bank Indonesia Wilayah V Jawa Tengah dan DIY tersebut, dimaksudkan untuk membantu sektor riil masyarakat baik sektor pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan diseluruh pelosok tempat.
Turut hadir pula dalam workshop tersebut Siti Fatimah dari Indonesia Women MDGs, Zubaidi SH selaku Wakil Kepala Dinas Pendidikan Provinsi, serta perwakilan Gubernur Jawa Tengah.
Workshop tersebut meliputi teori dan praktek cara membuat pakan murah, pupuk organik, energi bersih dan perbaikan lingkungan dan inovasi teknologi Biofertilizer Microbakter Alfaafa MA-11.
"Inovasi MA-11 sangat mendukung sektor riil karena dapat meningkatkan produksi secara capat, biaya hemat, hasil berlipat dan lingkungan tetap sehat dan selamat," ungkap Dr Nugroho Widiasmadi selaku penemu Biofertilizer Microbakter Alfaafa MA-11 dan juga pendiri PKBM ANSASchool, Sabtu (1/6).
Kegiatan yang di ikuti masyarakat umum, petani, pelajar, mahasiswa tersebut juga sebagai kurikulum unggulan PKBM ANSA School yang bertujuan membantu live skill siswa.
"Saya tertarik mengikuti kegiatan ini, karena saya ingin tahu bagaimana inovasi dari teknologiBiofertilizer Microbakter Alfaafa MA-11 ini dapat berguna untuk pertanian," kata Mia (38) warga Banyumanik yang juga peserta workshop tersebut.

Selasa, 18 Juni 2013

BANGUN DAN BERMIMPILAH


BANGUN DAN BERMIMPILAH

"Most men die from the neck up at age 25 because they stop dreaming" ~Ben Franklin

Mimpi yang saya maksudkan di sini bukan mimpi yang terjadi saat kita tidur, namun mimpi yang kita lakukan saat kita bangun dan sadar sepenuhnya. Mimpi ini lebih tepat kalau kita sebut sebagai impian atau goal. 

Tahukah anda, di manakah tempat yang paling kaya di dunia ini? Tempat terkaya di dunia ini bukan di Amerika, Timur Tengah, Eropa, Asia, atau Australia. Tempat terkaya di dunia ini adalah di kuburan. 

Mengapa di kuburan? Karena banyak orang meninggal dan dikubur bersama impian yang tidak pernah mereka raih, impian yang tidak pernah berani mereka kejar, impian yang tidak pernah mereka ungkapkan karena mereka merasa tidak (cukup) layak dan berharga untuk sukses. 

Di setiap seminar saya pasti ada peserta yang bertanya, ”Pak, anda banyak mengulas keberhasilan dalam arti finansial. Apakah sukses itu hanya diukur dengan uang?”. “Tidak ! Ada banyak aspek hidup yang harus kita rencanakan. Saya menggunakan contoh uang karena orang biasanya sangat mudah fokus bila yang dibahas adalah uang. Di samping itu uang pentingnya nomor dua setelah oksigen. Kalau tidak ada oksigen kita mati. Kalau tidak ada uang, kita akan setengah mati”, jawab saya sambil bercanda.

Dalam merencanakan tujuan hidup, kita harus seimbang. Saya yakin anda pasti pernah bertemu orang yang sangat kaya, secara finansial, tapi kehidupan keluarganya berantakan. Ada yang punya rumah lima, pabrik tiga, mobil tujuh, depositonya miliaran, tapi anaknya tidak terurus dan jadi pecandu narkoba. Ada yang sehat secara finansial tapi tidak sehat secara fisik, mental, dan emosional. Ada yang telah menjadikan pekerjaan atau usaha sebagai tuhan mereka. 

Secara umum ada delapan aspek kehidupan yang perlu kita perhatikan saat merancang impian:
- Spiritual
- Keluarga
- Pengembangan Diri
- Finansial
- Bisnis – Karir
- Materi
- Wisata
- Sosial

Di workshop QLT, dari praktik dan latihan yang dikerjakan, banyak ditemukan peserta yang sulit mencapai goal karena:
1. goalnya tidak jelas dan tidak spesifik.
2. urutan prioritasnya tidak pas untuk mencapai goal.
3. strategi atau cara untuk mencapai goal tidak jelas.
4. tidak punya skill atau kecakapan untuk mencapai goal.
5. adanya hambatan internal atau mental block. 

Jadi, mulailah dengan impian. Beranilah bermimpi besar. Besarnya impian yang berani diimpikan seseorang sebanding dan ditentukan oleh harga dirinya. Semakin tinggi dan sehat harga dirinya maka semakin berani ia bermimpi besar karena ia merasa layak dan berharga untuk mencapai serta menikmati impiannya. 

Untuk dapat meraih impian dengan mudah, untuk dapat menggunakan hukum-hukum mental dengan optimal dalam mencapai goal, kita perlu mengubah paradigma "ingin" (want) menjadi "layak (deserve). Kita bukan hanya ingin mencapai goal namun yang lebih penting adalah kita LAYAK dan BERHARGA untuk mencapai goal ini.


Adi W G

Pakar: Standar Pendidikan Jangan Dicampuri Tangan Asing

Semarang, Antara Jateng - 

Pakar pendidikan yang juga pendiri Anugerah Bangsa (Ansa) School Doktor Nugroho Widiasmadi mengatakan penetapan standar pendidikan harus dibuat sendiri tanpa campur tangan asing.


"Pembelajaran memang memerlukan suatu standar. Namun, standar ini harus kita buat sendiri tanpa campur tangan asing," katanya saat sarasehan "Membumikan Pendidikan, Masih Perlukan UN?" di Semarang, Sabtu.

Sarasehan nasional membahas ujian nasional yang berlangsung di Ansa School Semarang itu diprakarsai Yayasan Anugerah Nusa Bangsa Indonesia bekerja sama dengan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Peduli Umat.

Menurut Nugroho, proses mengawal pendidikan memang jauh lebih sulit dari sekadar menilai hasilnya saja sebagai jalan pintas sebab harus melibatkan berbagai faktor, mulai SDM guru, fasilitas, hingga keluarga.

Karena yang diukur adalah proses, kata dia, orientasinya pada evaluasi untuk mengubah dari suatu kondisi awal ke kondisi lebih baik secara bertanggung jawab, diikuti peningkatan kualitas komponen-komponen pendidikan.

"Kualitas guru dan sarana harus ditingkatkan karena komponen ini memegang peran vital dalam proses pendidikan. Tentu tidak boleh ada campur tangan asing, khususnya dalam mengukur proses tersebut," katanya.



Editor : Mahmudah

Senin, 17 Juni 2013

Stop becanda dengan kata “CACAT” atau “AUTIS”


Dulu saat aku masih punya banyak waktu berkumpul dengan teman teman atau nongkrong di keramaian. Sering banget denger kata kata “cacat lu” “autis banget niy orang”. Saat itu aku bisa ikut tertawa mendengarnya, bahkan sekali dua kali pernah juga ikutan becanda dengan kata kata itu.


Tapi kemudian aku bertemu dengan seorang teman di dunia maya yang memiliki anak autis. Dari ceritanya aku bisa bayangkan betapa berat hari yang dilaluinya. Berkali kali badannya terluka oleh cakaran atau membiru karena pukulan anaknya. Berkali kali anaknya hampir hilang. Berkali kali anaknya dilarikan kerumah sakit karena perilakunya. Lalu bagaimana jika seandainya saat orang orang becanda dengan kata cacat atau autis dan ada seorang ibu yang memiliki anak cacat atau autis mendengar becandaan itu sedang dia hampir gila menghadapi harinya bersama anaknya? Sedang dia sendiri susah payah berjuang mati matian agar anaknya bisa tumbuh senormal mungkin. Apa orang orang ini tau berapa ratus air mata menetes untuk anak anak itu, berapa puluh juta yang habis untuk pengobatannya. Berapa kali hampir kehilangan mereka. Belum lagi penolakan penolakan yang harus diterima, sedang keluarga mereka ingin mereka tetap tumbuh, berkembang dan hidup seperti anak pada umumnya dan tidak dibedakan atau dikelompokan. Terlalu berat masalah yang dihadapi keluarga yang memiliki anak anak luar biasa ini. Lalu dengan serampangan kondisi mereka dipakai untuk becanda “cacat lu” atau “autis niy orang”.

Teman inilah yang memulai membuat gerakan anti kata autis untuk becanda. Aku dan teman teman lain dalam komunitas dunia maya itu mulai menggalakkan.Aku mulai melarang orang orang terdekatku dan teman temanku untuk tidak lagi memakai kata itu untuk becanda.

Dan sekarang aku makin tau bagaimana rasanya mendengar kata kata itu buat becanda, karena aku memiliki Naya, anakku yang lengan dan tulang punggungnya tidak sempurna.

Bahasa indonesia sendiri sudah menghaluskan kondisi ini dengan istilah anak berkebutuhan khusus atau “special need”. Hal ini diharapkan bisa menjadi bentuk empati terhadap keluarga mereka ataupun meraka sendiri yang menyandangnya. Alangkah menyakitkan jika ternyata kata kata ini malah digunakan untuk becanda, dan digunakan tidak pada tempat yang seharusnya.

But, ya its okay. Mereka memang berbeda. Sekeras apapun usaha yang dilakukan untuk membuat perbedaan itu semakin kecil, mereka memang istimewa. Mereka terbaik yang diberikan Tuhan untuk dimiliki.Kita toh tidak bisa memaksa orang untuk melakukan itu, tapi kita bisa memulai dari diri sendiri. Dari lingkungan yang kecil. Jadikan ini sebuah kebiasaan yang akan menginspirasi banyak orang untuk mengikutinya.

So, Stop becanda dengan kata cacat dan autis..

Setiap anak mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan.

Setiap anak mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Dan, setiap anak sedapat mungkin memperoleh pendidikan yang layak bagi diri mereka. Namun, dalam pengalaman di lapangan menunjukkan bahwasanya banyak anak mendapatkan pengalaman kurang menyenangkan selama bersekolah.

Sebut saja, kasus Bulliying, bentakan dan kekerasan dari guru bahkan pemasungan kreatifitas anak. Pengalaman-pengalaman yang kurang berkesan tersebut menimbulkan phobia terhadap sekolah (school phobia) bagi anak dan orang tua. Kemudian, upaya penyeragaman kemampuan dan keterampilan semua anak untuk seluruh bidang turut mematikan minat dan bakat anak yang tentunya berbeda-beda, karena setiap anak adalah unik. Lebih jauh lagi, kurikulum yang terlalu padat dan tugas-tugas rumah yang menumpuk membuat kegiatan belajar menjadi suatu beban bagi sebagian anak.

Melihat kondisi ini, maka perlu dicarikan solusi alternatif bagi anak-anak yang kurang cocok dengan sistem pendidikan formal, salah satu bentuknya adalah kegiatan homeschooling. 

Homeschooling adalah sebuah system pendidikan atau pembelajaran yang diselenggarakan di rumah. Homeschooling adalah sekolah alternatif yang menempatkan anak-anak sebagai subjek dengan pendekatan secara “at home”. Dengan pendekatan “at home” inilah anak-anak merasa nyaman belajar karena mereka dapat belajar apapun sesuai dengan keinginannya, kapan saja dan dimana saja seperti ia tengah berada di rumahnya. Jadi, meski disebut homeschooling, tidak berarti anak akan terus menerus belajar di rumah, tapi anak-anak dapat belajar dimana saja dan kapan saja asal situasi dan kondisinya benar-benar nyaman dan menyenangkan seperti “at home”.


BOLEHKAH ANAK CERDAS USIA 5 TAHUN LANGSUNG MASUK SD KELAS 1?


Barusan saya mendapat pertanyaan dari seorang ibu, "Pak Adi, anak saya cerdas dan IQ-nya superior, di atas 130. Saat ini di TK A. Saya berencana untuk langsung menaikkan anak saya ke SD kelas 1. Saya sudah menyampaikan keinginan saya ini pada Kepala Sekolah TK dan SD tempat anak saya bersekolah. Kedua kepala sekolah ini menolak permintaan saya dengan alasan lompat kelas ini bisa berakibat buruk bagi perkembangan emosi anak saya. Saya kecewa dengan jawaban dan alasan mereka. Saya berencana memindahkan anak saya ke sekolah lain yang bersedia menerima langsung SD kelas 1. Bagaimana pendapat Pak Adi?"

Wah... ini yang ambisius ternyata ibunya. Saya kurang setuju dengan anak lompat kelas karena belum tentu baik untuk perkembangan si anak. Saya setuju dengan yang disampaikan kedua kepala sekolah tempat si anak bersekolah. 

Pendidikan tidak semata-mata mengenai kognisi. IQ ini berhubungan dengan kognisi. Masih ada aspek lain seperti afeksi (emosi / EQ) dan psikomotor. 

Dari riset diketahui bahwa pengaruh IQ terhadap keberhasilan hidup seseorang hanya sekitar 15%. Sisanya yang 85% ditentukan oleh EQ. Anak yang cerdas secara kognisi belum tentu cerdas di aspek afeksi dan psikomotor. 

Kebetulan juga tesis S2 saya meneliti mengenai sekolah akselerasi. Dari penelitian ini diketahui pengaruh kelas akselerasi terhadap perkembangan anak baik di aspek kognisi maupun afeksi dan psikomotor. Untuk bisa masuk kelas akselerasi juga ada persyaratan ketat yang harus dipenuhi yaitu di aspek IQ, TC (Task Commitment atau pengikatan diri terhadap tugas) dan CQ (Creativity Quotient), masing-masing harus memenuhi skor tertentu.

Sedangkan penelitian disertasi saya mengenai pendidikan berbasis nilai (value) di tiga sekolah yang bertujuan menyiapkan anak didik tidak hanya cerdas secara akademik namun juga cerdas di aspek afeksi dan psikomotor sehingga punya peluang besar untuk bisa sukses di masa depan. 

Saya tidak setuju dengan alasan orangtua ini menaikkan anaknya ke SD kelas 1 karena ternyata ini lebih untuk gengsi orangtua. Si Ibu berkata, "Kan nanti enak, kalau lulusnya masih muda. Berarti anak saya akan dikenal sebagai anak pintar dan cerdas."

Saya pernah menangani anak yang IQ-nya hampir 140, menerima beasiswa dari salah satu universitas top di Jawa Tengah namun akhirnya DO karena kondisi emosi yang tidak stabil. 

Beberapa waktu lalu saya juga pernah menangani murid SMA dari salah satu sekolah top di Surabaya, yang IQ-nya 148 (skala Weschler) dan bermasalah di sekolahnya. Anak ini sudah pindah sekolah 3 kali. 

Ada lagi, ini yang paling encer otaknya yang pernah saya tangani, anak SMA dengan IQ 156 ((skala Weschler), dan tidak percaya diri, mengalami kesulitan dalam interaksi sosial. 

Saya menyarankan Si Ibu untuk membaca beberapa buku seperti : The Millionaire Mind (Thomas J. Stanley, Ph.D) , Emotional Intellligence (Daniel Goleman), dan riset yang dilakukan oleh Prof. Lewis Terman agar mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai korelasi antara sukses kehidupan dan IQ atau sekolah. 

Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda setuju dengan yang dilakukan ibu anak ini?

Adi W Gunawan

Wajah Guru dalam Tarikan Kepentingan

KOMPAS.com - Komitmen terhadap siswa, inovasi, dan kreativitas guru merupakan faktor pendukung terbesar dalam proses pendidikan. Catharina (48), seorang guru SD swasta di Medan dengan pengalaman mengajar lebih dari 20 tahun, mengaku kerap berinovasi menggunakan alat peraga yang dibuatnya sendiri.


Saya menggandakan gambar-gambar terkait materi pelajaran dari koran atau buku, lalu saya bagikan kepada siswa agar mereka mudah memahami materi yang diajarkan,” Catharina bertutur.

Hal serupa dilakukan Ani Kurniati (38), guru SD negeri di Yogyakarta. Ia berupaya menciptakan suasana santai dan menyenangkan setiap memberikan materi dengan memosisikan diri seperti seorang ibu yang mengasuh anaknya. Tak jarang ia membimbing anak didiknya memahami materi dengan praktik lapangan di luar ruang kelas.

Kedua contoh itu menggambarkan pergulatan guru. Idealnya, guru tak hanya mengajar, tetapi juga menjadi pendidik bagi siswa. Saat menjadi seorang pengajar, guru ”hanya” mengajarkan pengetahuan bagi anak didik. Sementara ketika mendidik, guru melibatkan diri pada seluruh proses pembelajaran dan mendorong motivasi anak didik untuk maju.

Menurut Dedi Supriadi dalam jurnal Educational Leadership 1993, lima ukuran seorang guru disebut profesional adalah komitmen pada siswa dan proses belajar, penguasaan mendalam pada mata pelajaran dan cara mengajar, memantau hasil belajar melalui berbagai cara evaluasi, berpikir sistematis dan belajar dari pengalaman, serta menjadi bagian dari masyarakat profesinya.

Dari berbagai kriteria ideal itu, tampaknya tak seluruh syarat mampu dipenuhi para guru. Dari hasil survei ini terlihat bahwa secara umum ada komitmen yang cukup kuat dari para guru terhadap profesinya. Semangat panggilan untuk menjadi seorang pendidik anak bangsa juga tersirat. Meski demikian, berbagai kelemahan terkait mekanisme pengajaran, cara pandang, ataupun sarana menjadi hambatan.

Upaya-upaya untuk meningkatkan kompetensi profesional guru terutama dilakukan kalangan guru-guru yang mengajar di sekolah yang berakreditasi A dan B. Adapun guru di sekolah yang berakreditasi C cenderung menerapkan pengajaran konvensional. Sebanyak 40 persen dari guru yang mengajar di sekolah berakreditasi C mengaku jarang menggunakan media peraga dalam mengajar siswanya.

Tak sedikit guru yang masih ”memelihara kenyamanan” mengajar dengan semata-mata mengacu pada buku teks. Survei ini menunjukkan, mayoritas guru (70 persen) masih mengandalkan materi bahan ajar yang direkomendasikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta materi dari penerbit buku sebagai sumber informasi pengajaran. Dengan kata lain, pengayaan materi masih minim. Separuh lebih responden (61 persen) mengaku jarang memanfaatkan surat kabar atau karya sastra sebagai sarana mengembangkan inovasi pengajaran.

Tipe guru

Tipe guru ideal bisa tumbuh pada guru yang bertipe moderat atau terbuka. Dalam survei ini, indikator guru moderat adalah memiliki cara pandang lebih terbuka, seperti sepaham bahwa proses belajar antara guru dan siswa bersifat dialogis, proses belajar tak hanya terbatas ruang kelas, dan kompetensi keilmuan guru lebih penting ketimbang hal-hal seperti sertifikasi. Guru dengan tipikal konservatif lebih cenderung berpandangan sebaliknya.

Survei ini menemukan lebih dari separuh guru responden (57,5 persen) mendekati tipikal guru moderat atau terbuka. Sisanya bertipe konservatif. Tipe moderat cenderung terlihat pada guru-guru muda dengan pengalaman mengajar di bawah 15 tahun. Adapun tipe konservatif cenderung pada guru yang berpengalaman mengajar di atas 15 tahun.

Guru yang bertipe moderat cenderung lebih melakukan upaya-upaya meningkatkan kompetensinya dibandingkan guru yang bertipe konservatif. Dalam mempersiapkan rencana pengajaran, misalnya, 31 persen guru bertipe moderat setiap hari melakukan. Hal serupa dilakukan 29 persen guru bertipe konservatif.

Mayoritas guru yang terjaring survei ini mengaku jarang mengikuti pendidikan dan pelatihan terkait peningkatan kompetensi guru. Hal itu terutama banyak dialami mereka yang mengajar di sekolah berakreditasi C. Dua pertiga responden di kalangan ini mengaku jarang atau bahkan tidak pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan terkait kompetensi. Sebaliknya, 43 persen guru sekolah akreditasi B dan 38 persen guru sekolah akreditasi A mengikuti pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi.

Kesejahteraan

Tidak dimungkiri program sertifikasi guru yang digelar sejak beberapa tahun lalu merupakan langkah awal pengakuan negara atas profesionalisme guru. Namun, dari total guru di Indonesia pada 2011 sebanyak 2,92 juta orang, hanya 2,06 juta (70,5 persen) guru yang memenuhi syarat sertifikasi. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 1,1 juta guru sudah bersertifikat. Dari jumlah itu baru sekitar 731.000 guru yang menerima tunjangan sertifikasi.

Dari survei ini, hampir semua guru menilai program sertifikasi guru sangat penting. Selain dianggap sebagai penghargaan profesi, sertifikasi juga dimaknai sebagai tambahan penghasilan. Dua pertiga responden yang memiliki sertifikasi mengaku penghasilan yang diterima sudah sesuai dengan beban mengajar, bahkan 11 persen di antaranya merasa lebih dari cukup dibandingkan dengan beban mengajar. Sementara itu, lebih dari separuh responden yang belum mendapat sertifikasi guru mengaku penghasilan yang diterima lebih kecil dibandingkan dengan beban mengajar.

Hal ini menunjukkan, program sertifikasi guru meningkatkan kesejahteraan guru. Meski demikian, membaiknya kesejahteraan guru tidak serta-merta meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Separuh bagian guru mengaku kualitas pendidikan saat ini sama saja, bahkan 15 persen di antaranya mengaku lebih buruk dibandingkan dengan kondisi lima tahun lalu. Harus dilakukan upaya tambahan untuk memperbaiki pendidikan nasional tanpa mengurangi apa yang sudah menjadi hak para guru.

Ujian-Nasional-Tak-Ramah-Anak

SEMARANG, suaramerdeka.com - Mencermati penyelenggaraan pendidikan nasional saat ini, khususnya di tingkat SD, SMP, dan SMA, masih banyak permasalahan baik ditingkat kurikulum, proses belajar maupun alat ukurnya di tingkat Ujian Nasional (UN). Hal ini menimbulkan keprihatinan kita pada kualitas pendidikan generasi muda, yang akan berimbas pada masa depan bangsa.
Hal tersebut disampaikan oleh Pakar Pendidikan Dr Ir H Nugroho Widiasmadi M Eng selaku pendiri yayasan Anugrah Nusa Bangsa Indonesia (ANSA) saat ditemui usai mengisi acara sarasehan nasional "Membumikan Pendidikan Masih Perlukah UN?" di Home Schooling Kak Seto (HSKS) Semarang, Sabtu (15/6).
"Banyaknya permasalahan yang terjadi dalam UN kemarin, menambah keprihatinan. Apalagi jika masalah tersebut menjadi sebuah tradisi yang terus dan menerus terjadi, maka akan berimbas pada masa depan bangsa," ungkap Nugroho yang juga seorang penemu Biofertilizer Microbakter Alfaafa MA-11, Sabtu (15/6).
Nugroho menambahkan, ia tetap mendukung di adakannya UN. Akan tetapi dalam pelaksanaan UN tersebut, aspek penilaian dalam pendidikan yaitu kognitif, afektif, dan sikomotorik tetap diujikan.
"Untuk UN saya tetap mendukung, tapi dalam pengaplikasiannya tiga aspek penilaian dalam pembelajaran harus tetap ada. Jadi siswa tidak hanya dinilai dari sisi kemampuannya saja, melainkan sikap siswa juga harus dinilai," imbuh Nugroho.
Melihat pelaksanaan UN yang amburadul, M Iqbal Birsyada M pd yang juga kepala sekolah HSKS Semarang menegaskan ia menolak keras adanya UN.
"Pelaksanaan UN kemarin kan jelas-jelas amburadul. Pelaksanaan UN kemarin banyak siswa-siswi kita yang merasa tidak nyaman. Selain standarisasi yang belum jelas, UN tak ramah anak, oleh karena itu HSKS Semarang menolak keras UN," tegas Iqbal.
Dalam acara tersebut hadir pula Prof Dr Nanat Fatah Natsir selaku staf ahli Menteri Agama RI, Asma Ratu Agung selaku Ketua ICMI Peduli Pusat, Prof Dr Andi Faisal Bakti selaku Akademisi Universitas Pancasila.