Apa sih mental block itu? Mental block adalah kepercayaan yang bersifat menghambat kita dalam menggunakan potensi diri secara optimal. Untuk mudahnya begini. Pernahkah anda mendengar anak berkata ”Belajar itu sulit dan membosankan”, ”Saya nggak bisa bahasa Inggris”, ”Saya bodoh matematika”, ”Matematika hanya untuk anak yang otaknya encer”, ”Nilai IPS saya selalu jelek”, dan masih banyak ungkapan negatif lainnya?
Setiap pernyataan di atas mencerminkan kepercayaan (belief) anak terhadap dirinya sendiri dan kemampuannya di bidang tertentu. Pada saat anak menerima hal ini sebagai suatu kebenaran maka pada saat itu pula telah tercipta mental block dalam diri anak.
Lalu, apa pengaruh mental block terhadap prestasi anak? Sungguh dahsyat pengaruhnya. Anak dengan mental block seperti ini digaransi akan mengalami kesulitan belajar.
Dari pengalaman saya membantu dan menangani anak ”bermasalah” saya sampai pada satu simpulan penting. Tidak ada seorangpun yang bodoh. Yang ada adalah anak yang ”diprogram” menjadi anak yang bodoh. Kalau saya boleh lebih keras berbicara tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah anak yang ”dipaksa” menjadi bodoh.
Anda mungkin bingung dan bertanya, ”Apa maksudnya anak ”diprogram” atau ”dipaksa” menjadi bodoh?”.
Penjelasan singkatnya seperti ini. Misalnya, anak diajar matematika dan anak tidak mengerti. Ada banyak faktor yang membuat anak tidak mengerti. Misalnya karena gaya mengajar guru tidak sama dengan gaya belajar anak. Sebab lain, karena proses belajar dasar-dasar matematika yang salah. Anak tidak diajar secara konkrit, tapi langsung dihajar (bukan diajar, lho) dengan pendekatan yang bersifat abstrak.
Penjelasan lebih detil sebagai berikut. Jean Piaget, filsuf dan psikolog perkembangan dari Swiss, membagi perkembangan kognisi menjadi beberapa tahap berdasarkan usia:
0 – 2 thn tahap Sesori Motor
2 – 7 thn tahap Pra Operasi
7 – 12 thn tahap Operasi Konkrit
12 – 15 thn tahap Operasi Formal
Apa jadinya bila materi pelajaran diberikan kepada anak kita ternyata tidak sesuai dengan usia dan perkembangan kognisinya? Ya sudah tentu akan berakibat negatif.
Saat anak masih di sekolah dasar, usia 7 – 12 tahun, materi pelajaran seharusnya lebih bersifat konkrit, bukan abstrak. Nah, khusus di bidang matematika, anak biasanya mengalami kesulitan karena materi pelajaran diajarkan tanpa mengindahkan kebutuhan anak belajar secara konkrit.
Apa maksudnya? Coba kita lihat bagaimana anak kita belajar konsep angka dan jumlah. Cara yang benar adalah anak dikenalkan dengan benda konkrit yang ia kenal. Misalnya kelereng, sendok, bola, permen, sedotan minuman, pensil, atau kerikil. Nah, saat mengajar angka 1, 2, 3, dan seterusnya, harusnya ada benda yang bisa anak pegang dan manipulasi. Dengan demikian proses belajarnya benar yaitu konkrit. Angka, yang abstrak, masuk ke pikiran anak melalui benda konkrit.
Bila menggunakan benda konkrit maka anak bisa belajar menggunakan tiga gaya belajar sekaligus, visual, ia melihat bendanya, auditori, ia mendapat penjelasan dari gurunya, dan kinestetik, ia bisa memegang bendanya. Bila ini yang terjadi dijamin anak pasti fokus belajarnya.
Dari konkrit, setelah konsepnya dimengerti, barulah kita bergeser ke semi abstrak. Yang dimaksud dengan semi abkstrak adalah kita mengajar anak dengan menggunakan gambar, misalnya dengan kartu. Di kartu, selain ada angka juga ada gambar.
Setelah itu barulah kita bergeser ke abstrak yaitu hanya menggunakan angka saja. Jadi proses belajar yang benar adalah dari konkrit, semi abstrak, ke abstrak.
Salah satu kesulitan terbesar anak dalam belajar matematika adalah saat mereka harus mengerjakan soal cerita. Wah... ini sungguh menjadi momok bagi anak.
Sebagai sesama orangtua dan pendidik saya bisa memahami kesulitan anak. Mengapa anak mengalami kesulitan? Lha, bagaimana bisa mengerjakan soal cerita kalau dasar matematikanya saja belum kuat dan kemampuan linguistik anak masih kurang. Celakanya lagi banyak guru, yang karena hanya mengikuti buku paket, memberikan soal cerita pada anak SD kelas 2. Anak kita tidak bisa mengerjakan soal bukan karena bodoh namun secara perkembangan kognisi, kemampuan logika berpikir, dan kemampuan bahasa memang belum bisa. Biar dipaksa dengan memberikan les atau pelajaran tambahan anak tetap akan mengalami kesulitan.
Apa akibatnya bila anak langsung belajar dengan pendekatan abstrak? Anak pasti bingung dan tidak mengerti.
Selanjutnya anak yang tidak mengerti, tidak menguasai dasar matematika, tidak menguasai konsep dengan benar, diberi ujian. Hasilnya? Ya sudah tentu nilainya jelek. Nilai yang jelek ini kalau terjadi berkali-kali, ditambah lagi dengan ”pujian” yang didapat anak dari guru dan orangtua yang hanya mementingkan nilai tapi tidak mementingkan proses, akhirnya mengkristal menjadi kepercayaan yang menyatakan ”Saya tidak bisa matematika. Saya memang bodoh matematika”.
Begitu kepercayaan ini terbentuk dan diterima pikiran bawah sadar anak maka ia akan mengarahkan anak untuk mewujudkanya menjadi suatu realita. Hasilnya? Anak benar-benar menjadi bodoh matematika. Nah inilah yang dinamakan mental block.
Ini contoh matematika. Bagaimana dengan pelajaran lain? Sama saja. Ada anak yang trauma dengan pelajaran yang mengutamakan hapalan. Anak tidak bisa menghapal karena tidak diajarkan strategi menghapal yang benar.
Dan yang lebih menyedihkan lagi, seringkali guru meminta jawaban yang persis sama dengan catatan atau yang ada di buku. Saya beberapa kali menangani anak yang frustrasi karena tidak bisa menjawab persis seperti yang diminta gurunya. Anak ini sampai remedi 5X tetap tidak bisa.
Adalah lebih penting untuk mengajar anak mengerti daripada sekedar tahu dengan cara menghapal. Saat ini hanya dengan melakukan Googling anak bisa dapat informasi sangat banyak. Yang penting anak merasa senang belajar. Bila ia merasa senang maka dorongan untuk mengulangi pengalaman menyenangkan, ini yang disebut motivasi, akan membuat anak menguasai materi dengan bbaik
Anak adalah ANUGERAH dari Tuhan yang dipercayakan kepada kita, orangtua dan pendidik. Dan tugas utama kita, selaku orangtua dan pendidik, adalah memberikan kasih sayang, pendidikan, dukungan, bimbingan, rasa aman, sehingga anak tumbuh dengan budi PEKERTI yang baik dan benar sebagai bekal kehidupannya kelak, sehingga mampu menjalani hidup penuh makna dan bermanfaat bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, dan bagi masyarakat. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bertaqwa dan bermanfaat bagi orang lain.
Membaca penjelasan saya sejauh ini, apa simpulan Anda? Anak kita memang bodoh ataukah mereka dipaksa atau dibuat bodoh?
AdiWG



