Minggu, 30 Maret 2014

Pelajaran Penting yang Didapat Anak dari Bermain



Salah satu hal yang paling susah dilakukan para orangtua adalah memisahkan anak dari mainan dan juga mengurangi waktu bermainnya. Semua ini dilakukan karena aktivitas ini dianggap buang-buang waktu dan tak bermanfaat oleh orangtua.
Ironisnya, kegiatan bermain kini semakin kehilangan pamor, dianggap ketinggalan jaman dan tidak berguna. Penelitian yang dikemukakan oleh Golinkoff, Hirsh-Pasek, Singer, pada tahun 2006 menunjukkan waktu bermain anak-anak kini sudah semakin berkurang. Di tahun 1981, waktu bermain anak-anak berkurang 40 persen. Dan di tahun 1997, waktu bermain anak-anak berkurang lagi menjadi 25 persen.
"Kalau dihitung-hitung, kegiatan belajar anak-anak SD sekarang ini bisa berlangsung lebih dari delapan jam sehari. Selama sekian jam lamanya mereka terkungkung di dalam ruang kelas, istirahat di sekolah hanya 2 kali 15 menit per hari. Seusai sekolah, mereka harus mengikuti les tambahan pelajaran, atau les lainnya yang kadang bukan menjadi minat mereka. Jadi, tidak heran kalau anak-anak ini stres, jenuh belajar, dan tidak bersemangat belajar, dan prestasi akademis melorot," kata Mayke S Tedjasaputra, Play Therapist.
Setiap orang, termasuk Anda dan anak-anak pasti punya batas kemampuan untuk bisa belajar dan bekerja. Anda saja bisa bosan dan capek kalau terus-terusan bekerja. Suatu saat Anda juga pasti ingin bersantai dari rutinitas, apalagi anak-anak yang dunianya penuh dengan mainan? Agar hidup lebih bahagia dan sehat, semua orang membutuhkan keseimbangan hidup, antara kegiatan belajar dan rekreasi (bermain).
Itu saja manfaat bermain? Jangan dulu beranggapan kalau bermain cuma sekadar bagian dari proses refresing saja. Lewat bermain, anak-anak juga bisa mendapat banyak "pelajaran" yang bermanfaat untuk kehidupan mereka nantinya. Bermain menimbulkan rasa senang dan menjadi sarana anak-anak untuk mengembangkan diri secara optimal.
1. Aspek fisik-motorik
Lewat bermain, energi anak akan lebih tersalurkan, dan pertumbuhan otot tubuh, tulang, gerakan motorik kasar dan motorik halus dapat berkembang lebih baik.

2. Aspek emosional
Bermain mereka dapat menyalurkan emosi yang terpendam, meluapkan rasa tertekan atau rasa senang yang mereka rasakan. Lewat bermain, anak akan belajar cara mengatur dirinya untuk tidak memaksakan kehendaknya, beradaptasi, menjalankan kesepakatan bersama temannya, sportif, jujur, dan tidak mudah menyerah ketika mengalami kesulitan.

3. Aspek kognitif 
Dalam permainan, anak secara tak langsung akan dituntut untuk berpikir menentukan strategi yang jitu agar bisa memenangkan permainan, fokus pada apa yang dilakukan, mencari solusi ketika ada masalah yang muncul, mengorganisir teman-teman agar tercipta team-work yang solid, menghubungkan pengalaman masa lalu dengan tindakannya di masa sekarang.

4.Bahasa
Bermain ternyata juga berfungsi untuk menambah perbendaharaan kosa kata anak. Saat bermain pun, anak-anak dapat saling berbagi pengetahuan yang mereka miliki. Dengan kata lain, bermain memiliki manfaat jangka panjang bagi anak, yaitu mengasah executive function.

Jadi, jangan larang anak bermain. Sebagai orangtua sebaiknya, Anda harus mengajarkan mereka bagaimana cara membagi waktu yang tepat antara bermain dengan belajar. 

Jumat, 21 Maret 2014

Apa Efeknya jika Orangtua Jarang Berkomunikasi dengan Anak?


KOMPAS.com — Permasalahan komunikasi ternyata tidak hanya dialami oleh anak-anak yang terpisah jarak dengan orangtuanya, tetapi juga orangtua dan anak yang tinggal serumah. Padahal, minimnya komunikasi membuat hubungan orangtua dan anak kurang dekat secara psikologis.
Jika pada keluarga yang tinggal terpisah memiliki hambatan komunikasi karena tidak dekat secara fisik, maka pada keluarga modern, kehadiran gadget-gadget canggih tanpa disadari menyebabkan hilangnya komunikasi dan kehangatan keluarga.
Ketergantungan pada gadget membuat masing-masing anggota keluarga menjalani kesibukannya. Bahkan meski berada dalam satu ruangan yang sama, mereka tidak saling berkomunikasi secara mendalam.
"Banyak orang masih mengira kedekatan fisik saja sudah cukup, padahal perlu juga diciptakan komunikasi mendalam dengan pasangan dan juga anak-anak," kata psikolog Anna Surti Ariani, MSi, yang akrab disapa Nina, dalam acara yang digelar oleh Sariwangi, di Jakarta Rabu (19/3/2014).
Untuk anak berusia kurang dari 7 tahun, kedekatan fisik adalah sesuatu yang memang diperlukan. Mereka belum bisa membayangkan sosok orangtua yang tidak ada di dekatnya.
"Tapi orangtua juga perlu ngobrol dengan anak, mendengarkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan anak dengan penuh perhatian. Ini yang disebut dengan komunikasi berkualitas," kata Nina.
Kurangnya komunikasi juga pernah dialami penyanyi Widi Mulia. "Saya pernah dilapori oleh guru anak sulung saya, Dru, karena ia jadi lebih pendiam di sekolah. Ternyata setelah saya ngomong dari hati ke hati dengan Dru, ia merasa kurang diperhatikan karena saya lebih fokus pada adiknya," ujarnya.
Setelah itu, Widi mengaku selalu menyempatkan diri untuk memperdalam komunikasi dengan kedua buah hatinya. "Terkadang kita sebagai orangtua tanpa sadar terlalu over estimate anak, padahal sebenarnya mereka juga masih butuh dimanja-manja dan didengarkan," katanya.
Kurangnya komunikasi mendalam antara anak dan orangtua, menurut Nina, berdampak negatif pada perkembangan emosi anak.
"Keterampilan komunikasi anak menjadi kurang diasah sehingga anak lebih individualis. Mereka juga rentan jadi pemberontak, terutama pada anak yang bawaannya memang keras," paparnya.
Selain itu, anak yang tidak terampil berkomunikasi juga cenderung menghadapi banyak masalah saat ia dewasa. "Rumah tangga mereka rentan perceraian karena tidak biasa berkomunikasi dalam sebuah hubungan," katanya.
Obrolan mendalam antara orangtua dan anak juga bisa membantu anak mengatur emosinya. Anak yang jarang diajak ngobrol dengan orangtuanya cenderung merasa "kosong" dalam jiwanya sehingga mereka akan mencari orang lain untuk mengisi kekosongan tersebut.
"Itu sebabnya banyak fenomena anak-anak remaja yang mudah percaya pada orang asing di media sosial. Mereka sebenarnya butuh teman, butuh didengarkan. Kebutuhan itu tidak didapatkan dari orangtuanya," kata Nina.
Kedekatan secara fisik dengan anak seharusnya menjadi keistimewaan yang patut disyukuri karena orangtua bisa melihat secara langsung perkembangan anak. Dengan menerapkan komunikasi yang efektif, baik keluarga yang terpisah jarak maupun keluarga yang satu atap, bisa mencegah pengaruh negatif terhadap perkembangan anak

Rabu, 19 Maret 2014

Dalam Cengkeraman Ilmu Dasar


SETIAP bangsa punya pilihan: melahirkan atlet bermedali emas atau perenang yang tak pernah menyentuh air; melahirkan sarjana yang tahu ke mana langkah dibawa atau sekadar membawa ijazah.
Tak termungkiri, negeri ini bu- tuh lebih banyak orang yang bisa membuat ketimbang pandai berdebat, bertindak dalam karya ketimbang hanya protes. Tak banyak yang menyadari universitas hebat bukan hanya diukur dari jumlah publikasinya, melainkan juga dari jumlah paten dan impak pada komunitasnya.
Pendidikan kita masih berkutat di seputar kertas. Kita baru mahir memindahkan pengetahuan dari buku teks ke lembar demi lembar kertas: makalah, karya ilmiah, skripsi, atau tesis. Kita belum menanamnya dalam tindakan pada memori otot, myelin.
Seorang mahasiswa dapat nilai A dalam kelas pemasaran bukan karena dia bisa menerapkan ilmu itu ke dalam hidupnya, minimal memasarkan dirinya, atau memasarkan produk orang lain, melainkan karena ia sudah bisa menulis ulang isi buku ke lembar-lembar kertas ujian.
Pendidikan tinggi sebenarnya bisa dibagi dalam dua kelompok besar: dasar dan terapan. Pendi- dikan dasar itulah yang kita kenal sejak di SD: matematika, kimia, biologi, fisika, ekonomi, sosiologi, dan psikologi. Terapannya bisa berkembang menjadi ilmu kedokteran, teknik sipil, ilmu komputer, manajemen, desain, perhotelan, dan seterusnya.
Kedua ilmu itu sangat dibutuhkan bangsa memajukan pera- daban. Namun, investasi untuk membangun ilmu dasar amat besar, membutuhkan tradisi riset dan sumber daya manusia bermutu tinggi. Siapa menguasai ilmu dasar ibaratnya mampu menguasai dunia dengan universitas yang menarik ilmuwan terbaik lintas bangsa. Negara-negara yang berambisi menguasainya punya kebijakan imigrasi yang khas dan didukung pusat keuangan dan inovasi progresif.
Dengan bekal ilmu dasar yang kuat, bangsa besar membentuk ilmu terapan. Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris adalah negara yang dibangun dengan keduanya. Namun, sebagian negara di Eropa dan Asia memilih jalan le- bih realistis: fokus pada studi il- mu terapan. Swiss fokus dengan ilmu terapan dalam bidang manajemen perhotelan, kuliner, dan arloji. Thailand dengan ilmu terapan pariwisata dan pertanian. Jepang dengan elektronika. Singapura dalam industri jasa keuangannya.
Tentu terjadi pergulatan besar agar ilmu terapan dapat benar- benar diterapkan. Pada mulanya ilmu terapan dikembangkan di perguruan tinggi untuk mendapat dana riset dan menjembatani teori dengan praktik. Akan tetapi, mindset para ilmuwan tetaplah ilmu dasar yang penekanannya ada pada metodologi dan statistik untuk mencari kebenaran ilmiah yang buntutnya ialah publikasi ilmiah.
Melalui pergulatan besar, pro- gram studi terapan berhasil keluar dari perangkap ilmu dasar. Ilmu Komputer keluar dari Fakultas Matematika dan Manajemen menjadi Sekolah Bisnis. Dari lulusan dengan ”keterampilan kertas”, mereka masuk pada karya akhir berupa aplikasi, portofolio, mock up, desain, dan laporan pemecahan masalah.
Metodologi dipakai, tetapi validitas eksternal (impak dan aplikasi) diutamakan. Hanya pada program doktoral metodologi riset yang kuat diterapkan. Itu pun banyak ilmuwan terapan yang meminjam ilmu dasar atau ilmu terapan lain sehingga terbentuk program multidisiplin seperti arsitektur yang dijodohkan dengan antropologi atau arkeologi, akuntansi dengan ilmu keuangan.
Anak-anak Kita
Kemerdekaan yang diraih pro- gram studi ilmu terapan di pergu- ruan tinggi melahirkan revolusi pada tingkat pendidikan dasar. Bila mengunjungi pendidikan anak-anak usia dini, TK dan SD di mancanegara, Anda akan melihat kontras dengan di sini. Alih-alih baca-tulis-hitung dan menghafal, mereka mengajarkan executive functioning, yang melatih anak-anak mengelola proses kognisi (memori kerja, reasoning, kreativitas-adaptasi, pengambilan keputusan, dan perencanaan-eksekusi).
Sekarang jelas mengapa kita mengeluh sarjana tak siap pakai: pendidikan didominasi kultur ilmu dasar yang serba kertas dan mengabaikan aplikasi. Perhatikan, Indonesia masih menjadi negara yang mewajibkan lulusan sekolah bisnis (MM) menulis tesis yang pengujinya getol memeriksa validitas internal dan metodologi yang sempit. Kegetolan ini juga terjadi pada banyak penguji program studi perhotelan atau terapan lain yang merasa kurang ilmiah kalau tidak ada pengolahan data secara saintifik.
Saya ingin menegaskan: hal itu hanya terjadi pada negara yang ilmu terapannya masih terbelenggu mindset ilmu dasar. Keluhan- nya sama: tak siap pakai, kalah dalam persaingan global.
Pertanyaannya hanya satu, kita biarkan terus seperti ini atau dengan legawa kita mulai pembaruan agar para sarjana ilmu terapan mampu menerapkan ilmunya? Itu terpulang pada kesadaran kita, bukan kesombongan atau ego ilmiah.
(RHENALD KASALI, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia)
Sumber: Harian Kompas edisi Selasa, 18 Maret 2014.