Senin, 17 Juni 2013

BOLEHKAH ANAK CERDAS USIA 5 TAHUN LANGSUNG MASUK SD KELAS 1?


Barusan saya mendapat pertanyaan dari seorang ibu, "Pak Adi, anak saya cerdas dan IQ-nya superior, di atas 130. Saat ini di TK A. Saya berencana untuk langsung menaikkan anak saya ke SD kelas 1. Saya sudah menyampaikan keinginan saya ini pada Kepala Sekolah TK dan SD tempat anak saya bersekolah. Kedua kepala sekolah ini menolak permintaan saya dengan alasan lompat kelas ini bisa berakibat buruk bagi perkembangan emosi anak saya. Saya kecewa dengan jawaban dan alasan mereka. Saya berencana memindahkan anak saya ke sekolah lain yang bersedia menerima langsung SD kelas 1. Bagaimana pendapat Pak Adi?"

Wah... ini yang ambisius ternyata ibunya. Saya kurang setuju dengan anak lompat kelas karena belum tentu baik untuk perkembangan si anak. Saya setuju dengan yang disampaikan kedua kepala sekolah tempat si anak bersekolah. 

Pendidikan tidak semata-mata mengenai kognisi. IQ ini berhubungan dengan kognisi. Masih ada aspek lain seperti afeksi (emosi / EQ) dan psikomotor. 

Dari riset diketahui bahwa pengaruh IQ terhadap keberhasilan hidup seseorang hanya sekitar 15%. Sisanya yang 85% ditentukan oleh EQ. Anak yang cerdas secara kognisi belum tentu cerdas di aspek afeksi dan psikomotor. 

Kebetulan juga tesis S2 saya meneliti mengenai sekolah akselerasi. Dari penelitian ini diketahui pengaruh kelas akselerasi terhadap perkembangan anak baik di aspek kognisi maupun afeksi dan psikomotor. Untuk bisa masuk kelas akselerasi juga ada persyaratan ketat yang harus dipenuhi yaitu di aspek IQ, TC (Task Commitment atau pengikatan diri terhadap tugas) dan CQ (Creativity Quotient), masing-masing harus memenuhi skor tertentu.

Sedangkan penelitian disertasi saya mengenai pendidikan berbasis nilai (value) di tiga sekolah yang bertujuan menyiapkan anak didik tidak hanya cerdas secara akademik namun juga cerdas di aspek afeksi dan psikomotor sehingga punya peluang besar untuk bisa sukses di masa depan. 

Saya tidak setuju dengan alasan orangtua ini menaikkan anaknya ke SD kelas 1 karena ternyata ini lebih untuk gengsi orangtua. Si Ibu berkata, "Kan nanti enak, kalau lulusnya masih muda. Berarti anak saya akan dikenal sebagai anak pintar dan cerdas."

Saya pernah menangani anak yang IQ-nya hampir 140, menerima beasiswa dari salah satu universitas top di Jawa Tengah namun akhirnya DO karena kondisi emosi yang tidak stabil. 

Beberapa waktu lalu saya juga pernah menangani murid SMA dari salah satu sekolah top di Surabaya, yang IQ-nya 148 (skala Weschler) dan bermasalah di sekolahnya. Anak ini sudah pindah sekolah 3 kali. 

Ada lagi, ini yang paling encer otaknya yang pernah saya tangani, anak SMA dengan IQ 156 ((skala Weschler), dan tidak percaya diri, mengalami kesulitan dalam interaksi sosial. 

Saya menyarankan Si Ibu untuk membaca beberapa buku seperti : The Millionaire Mind (Thomas J. Stanley, Ph.D) , Emotional Intellligence (Daniel Goleman), dan riset yang dilakukan oleh Prof. Lewis Terman agar mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai korelasi antara sukses kehidupan dan IQ atau sekolah. 

Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda setuju dengan yang dilakukan ibu anak ini?

Adi W Gunawan

1 komentar:

  1. Kalau sepengamatan saya pada kehidupan ini, suksesnya hidup seseorang itu bahkan tidak ada urusannya dengan masalah IQ. Semua kesuksesan dalam kehidupan, baik itu sukses di bidang materi maupun kejiwaan, lebih di akibatkan oleh sikap dan sifat. Orang yang punya sifat jujur itu, jiwanya sangat sulit untuk tidak bahagia. Apalagi hampir semua orang yang sukses di bidang materi kebanyakan karena dia memiliki kepercayaan dari orang lain, bukan karena pintar.

    Nah begitu juga dengan sifat sifat dan sikap sikap yang lain. Selalu memberi balikan yang sangat positif pada jiwa yang memilikinya. Seperti sifat PERDULI, BAIK dan lain sebagainya. Dan berikut ini adalah sikap yang paling berpengaruh pada kesuksesan kehidupan seseorang baik itu materi ataupun kejiwaan yaitu - SUKA BERGAUL, BANYAK TEMAN DAN DI SUKAI SEMUA ORANG (ini salah satu kunci keberhasilan paling tinggi di alam semesta ini) Dan itu hampir sama sekali tidak ada hubungannya dengan IQ.

    BalasHapus