Dulu saat aku masih punya banyak waktu berkumpul dengan teman teman atau nongkrong di keramaian. Sering banget denger kata kata “cacat lu” “autis banget niy orang”. Saat itu aku bisa ikut tertawa mendengarnya, bahkan sekali dua kali pernah juga ikutan becanda dengan kata kata itu.
Tapi kemudian aku bertemu dengan seorang teman di dunia maya yang memiliki anak autis. Dari ceritanya aku bisa bayangkan betapa berat hari yang dilaluinya. Berkali kali badannya terluka oleh cakaran atau membiru karena pukulan anaknya. Berkali kali anaknya hampir hilang. Berkali kali anaknya dilarikan kerumah sakit karena perilakunya. Lalu bagaimana jika seandainya saat orang orang becanda dengan kata cacat atau autis dan ada seorang ibu yang memiliki anak cacat atau autis mendengar becandaan itu sedang dia hampir gila menghadapi harinya bersama anaknya? Sedang dia sendiri susah payah berjuang mati matian agar anaknya bisa tumbuh senormal mungkin. Apa orang orang ini tau berapa ratus air mata menetes untuk anak anak itu, berapa puluh juta yang habis untuk pengobatannya. Berapa kali hampir kehilangan mereka. Belum lagi penolakan penolakan yang harus diterima, sedang keluarga mereka ingin mereka tetap tumbuh, berkembang dan hidup seperti anak pada umumnya dan tidak dibedakan atau dikelompokan. Terlalu berat masalah yang dihadapi keluarga yang memiliki anak anak luar biasa ini. Lalu dengan serampangan kondisi mereka dipakai untuk becanda “cacat lu” atau “autis niy orang”.
Teman inilah yang memulai membuat gerakan anti kata autis untuk becanda. Aku dan teman teman lain dalam komunitas dunia maya itu mulai menggalakkan.Aku mulai melarang orang orang terdekatku dan teman temanku untuk tidak lagi memakai kata itu untuk becanda.
Dan sekarang aku makin tau bagaimana rasanya mendengar kata kata itu buat becanda, karena aku memiliki Naya, anakku yang lengan dan tulang punggungnya tidak sempurna.
Bahasa indonesia sendiri sudah menghaluskan kondisi ini dengan istilah anak berkebutuhan khusus atau “special need”. Hal ini diharapkan bisa menjadi bentuk empati terhadap keluarga mereka ataupun meraka sendiri yang menyandangnya. Alangkah menyakitkan jika ternyata kata kata ini malah digunakan untuk becanda, dan digunakan tidak pada tempat yang seharusnya.
But, ya its okay. Mereka memang berbeda. Sekeras apapun usaha yang dilakukan untuk membuat perbedaan itu semakin kecil, mereka memang istimewa. Mereka terbaik yang diberikan Tuhan untuk dimiliki.Kita toh tidak bisa memaksa orang untuk melakukan itu, tapi kita bisa memulai dari diri sendiri. Dari lingkungan yang kecil. Jadikan ini sebuah kebiasaan yang akan menginspirasi banyak orang untuk mengikutinya.
So, Stop becanda dengan kata cacat dan autis..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar